Postingan Populer

Jumat, 10 April 2026

Suara Perempuan Tidak Pernah Berbahaya, Kecuali Bagi yang Takut Kehilangan Kuasa

Ada fase dalam hidupku ketika aku sadar bahwa suara perempuan sering kali tidak benar-benar didengar, hanya ditoleransi. Itu pun selama tidak terlalu keras.

Sejak itu, aku memilih untuk bersuara.

Bukan karena aku merasa paling benar, tapi karena aku tahu rasanya tidak punya ruang aman. Rasanya seperti hidup di antara aturan-aturan tak tertulis, "harus begini, tidak boleh begitu", dan anehnya, banyak perempuan tumbuh tanpa pernah benar-benar diberi kesempatan untuk mempertanyakan semuanya. 

Maka, aku mulai berbagi.
Pelan-pelan, lewat obrolan sederhana, lewat pesan larut malam, lewat tulisan-tulisan yang mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang.

Tentang batasan.
Tentang harga diri.
Tentang stigma tak masuk akal yang tidak seharusnya membuat kita kehilangan diri sendiri.

Aku tidak pernah menyangka, ternyata ada yang benar-benar mendengarkan.

Ada yang akhirnya berani berkata, “Aku capek diperlakukan seperti ini.”
Ada yang diam-diam mengaku, “Aku baru sadar ini bukan hal yang harus aku tahan.”
Ada yang memilih pergi dari hubungan/lingkungan yang selama ini mereka kira harus dipertahankan.

Di titik itu, aku mengerti, bahwa hal kecil yang kita suarakan, bisa jadi adalah pintu keluar bagi orang lain.

Namun, seperti yang bisa ditebak, tidak semua orang nyaman dengan itu.

Aku pernah sampai pada satu kesimpulan:
banyak orang tidak benar-benar membenci cara perempuan berpikir, mereka hanya takut kehilangan kendali atas mereka.

Aku tidak berteriak.
Aku tidak memaksa.
Aku hanya berbagi.
Bahkan cukup dengan menulis di story WA.
Namun, itu saja sudah cukup untuk membuat sebagian orang gelisah.

Ada laki-laki yang merasa “diserang”, padahal aku tidak pernah menyebut nama.
Ada yang takut pasangannya akan “teracuni” hanya karena membaca tulisanku.
Seolah-olah kesadaran adalah racun, dan perempuan yang berpikir adalah bahaya.

Lalu yang lebih ironis, penolakan itu tidak selalu datang dari laki-laki. Ada juga perempuan yang memilih berdiri di sisi yang sama dengan sistem yang menekan mereka, membungkusnya dengan dalih agama, seakan-akan mempertanyakan ketidakadilan berarti menentang keyakinan. 

Padahal, yang aku suarakan bukan pemberontakan. Ini tentang kesadaran. Tentang hak untuk tidak terus-menerus diam pada ketidakadilan dan kekerasan ... 

dan, ya ... di tengah semua itu, aku pernah ragu.

Aku pernah berhenti sejenak dan bertanya:
"Apakah pemikiranku ini salah? atau memang dunia belum siap melihat perempuan berdiri tanpa izin?"

Lebih jauh lagi, aku pernah berpikir, kalau begitu banyak laki-laki merasa terganggu dengan cara berpikirku …
"Apakah ada satu saja yang bisa memahami? yang tidak merasa terancam oleh perempuan yang sadar? yang tidak butuh perempuan untuk menjadi lebih kecil agar dirinya tetap merasa besar?"

Pertanyaan itu pernah tinggal lama di kepalaku. Sampai akhirnya, aku menemukan jawabannya.

Ada.

Dia tidak melihat suaraku sebagai ancaman. Tidak merasa perlu mengontrol pikiranku. Tidak takut kehilangan kuasa hanya karena aku memilih untuk sadar. Dia melihatku sebagai manusia yang utuh.

Hari ini, dia adalah suamiku.

Darinya aku belajar satu hal yang sederhana, tapi penting: laki-laki yang mendengarkan adalah manusia yang memberi ruang aman, bukan hanya penghakiman.

Jadi sekarang, aku tidak lagi sibuk menjelaskan diriku pada semua orang.

Aku akan tetap berbicara. Tetap berbagi.
Tetap menjadi ruang aman, sekecil apa pun itu, bagi perempuan yang membutuhkannya.
Karena jika di antara semua ini ada satu perempuan saja yang akhirnya berani memilih dirinya sendiri, maka semua suara ini tidak pernah sia-sia.



#Aksara_Malam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel ilmiah

Analisis Makna dari Gaya Bahasa (Majas) pada Cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku Lailatul Khomsiyah Tadris Bahasa Indonesia, IAIN Madura Ala...